Home » Al-Islam » Menjawab pendapat KH Ahmad Dahlan itu NU
Menjawab pendapat KH Ahmad Dahlan itu NU

Menjawab pendapat KH Ahmad Dahlan itu NU

Entah sudah beberapa kali dijelaskan, masih saja ada orang yang berpendapat dna kemudian secara bombastis mengklaim, amalan KH. Ahmad Dahlan itu mengikuti madzhab Syafi’i, lalu mengambil kesimpulan bahwa KH. ahmad Dahlan itu ya aslinya aswaja, tidak seperti orang Muhammadiyah sekarang. Kalau argumen seperti itu terus dipertahankan, ya kita juga bisa menggunakan argumen seperti itu. Misalkan dalam kitab safiinatun najaa, dan dalam kitab-kitab karangan Imam Syafi’i, dikatakan bahwa niat shalat itu cukup di dalam hati, nyatanya sekarang teman-teman NU melafazhkan niat dengan lafazh “ushalli fardha…..”. Berarti boleh donk kita mengtakan bahwa pengarang kitab safiinah atau Imam Syafii itu Muhammadiyah? Ya kan tidak seperti itu.

Jadi persoalannya bukan siapa amalannya sama dengan siapa lantas diklaim. Ok betul amalan KH. Ahmad Dahlan dalam beberapa hal sama dengan NU. Ok juga bahwa amalan Imam Syafii dalam soal niat shalat sama dengan Muhammadiyah. Namun saat menyimpulkan apakah KH. Ahmad Dahlan itu NU atau Imam Syafii itu Muhammadiyah jelas tidak boleh gegabah. Kita jangan melihat secara parsial, namun harus melihat secara utuh, baru mengambil kesimpulan.
Kalau kita hanya melihat parsial, boleh kita menyimpulkan bahwa KH. Ahmad Dahlan itu NU atau Imam Syafii itu Muhammadiyah. Namun ada aspek-aspek lain yang harus secara jujur kita ungkapkan dalam hal ini. Misalnya bahwa Kyai Dahlan adalah seorang penggemar Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abduh yang notabene dianggap menyimpang oleh teman-teman aswaja karena bertentangan dengan beberapa doktrin aswaja. Kenapa teman-teman aswaja tidak mengungkap ini saat menulis buku Muhammadiyah itu NU? Padahal hal ini sangat fundamental, pemikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abduh itu sudah masuk ranah teologi, maka saat Kyai Dahlan menjadi fans mereka berdua, ya secara teologi harusnya KH. Ahmad Dahlan sudah bermasalah bagi aswaja.
Lalu kita juga tidak bisa serta merta mengklaim bahwa Imam Syafii itu sama dengan Muhammadiyah hanya karena soal niat sholat. Kalau kita baca Imam Syafii itu membagi bid’ah menjadi 2, bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Pembagian bid’ah ini bertentangan dengan doktrin Muhammadiyah selama ini. Jadi secara fundamental pun Imam Syafii berbeda dengan Muhammadiyah. 
Lalu argumentasi lain adalah dahulu guru KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari sama, yaitu KH. Sholeh Darat, maka diambil kesimpulan bahwa secara otomatis pemikirannya akan sama. Hal ini jelas bermasalah, sepanjang sejarah banyak ditemukan bahwa pemikiran tokoh yang mempunyai guru yang sama seringkali berbeda. Misalnya Soekarno, Muso dan Kartosuwiryo itu gurunya sama, HOS Cokroaminoto. Namun Soekarno menjadi nasionalis, Muso menjadi komunis dan Kartosuwiryo menjadi Islamis.Jadi kesamaan guru tidak menjamin bahwa pemikirannya akan sama.

Terakhir ingat bahwa pemikiran manusia itu dinamis, misalnya Cak Nur muda berbeda dengan Cak Nur tua. Cak Nur muda sempat disebut Natsir muda, namun setelah tua pemikiran beliau berubah sehingga para sesepuh Masyumi kecewa. Pemikiran Karl Marx muda berbeda dengan Karl Marx tua. Lalu Rizal Malarangeng muda adalah seorang sosialis, dan sekarang beliau adalah liberalis. Itu adalah beberapa contoh. KH. Ahmad Dahlan pun begitu, saat masih Muhammad Darwis mau tidak mau pemikiran beliau akan sama dengan apa yang menjadi mainstream waktu itu. Namun bedanya dengan ulama lain, KH. Ahmad Dahlan itu terus belajar, dan mau menerima hal yang baru. Sehingga pemikirannya ketika tua bukan lagi aswaja seperti ketika muda, namun sejalan dengan Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abduh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*