Home » Al-Islam » Biografi Imam Hanafi / Abu Hanifah Bagian-3 (Habis)
Biografi Imam Hanafi / Abu Hanifah Bagian-3 (Habis)

Biografi Imam Hanafi / Abu Hanifah Bagian-3 (Habis)

3. Metode istimbat yang digunakan mazhab Hanafi
Imam Abu Hanifah adalah ulama yang terkenal menggunakan rasio dalam ijtihad-ijtihadnya, sehinggah ia dikenal dengan ahl al- Ra’yu. Ia hidup selama 52 tahun pada masa dinasti umayyah dan 18 tahun pada masa dinasti Abbasiyah. Pada masa hidupnya, ia sempat menyaksikan tragedi – tragedi besar di Kufah. Di satu sisi Kufah memberikan makna dalam kehidupannya sehingga menjadi seorang ulama besar al –Imam al –A’zam. Tapi disisi lain, beliau merasakan kota Kufah sebagai kota yang diwarnai dengan pertentangan politik. Kota Kufah dan Bashra di Irak memang melahirkan banyak ilmuan dalam berbagai bidang seperti ilmu sastra, teologi, tafsir, hadits dan tasawuf.

Intelektualitas Abu Hanifah diwarnai oleh kedua kota bersejarah tersebut. Di tengah berlangsungnya proses transformasi sosio-kultural, politik dan pertarungan tradisional antara suku Arab utara, Arab selatan serta Persi. Oleh karena itu, pola pikir Imam Abu Hanifah dalam menetapka hukum sudah tentu sangat dipengaruhi latar belakang kehidupan serta pendidikannya, juga tidak terlepas dari sumber hukum yang ada.

Imam Abu Hanifah dikenal sebagai ulama ahl al –Ra’yu ( ahli rasional )dalam menetapkan hukum islam, baik yang dinisbathkan dari al –Qur’an ataupun al –Hadts. Beliau banyak menggunakan nalar, mengutamakan ra’yu dari pada khabar ahad. Apabila terdapat hadits yang bertentangan, beliaau menetapka hukum dengan qiyas dan istihsan.
Beliau mengajak kepada kebebasan berfikir dalam memecahkan masalah-msalah baru yang belum terdapat dalam al- Qur’an dan sunnah, dan menganjurkan pembahasan persoalan dengan bebas merdeka. Ia banyak mengandalkan qiyas( analogi ), istihsan dan istishab dalam menetapkan hukum.

Cara ini menjadi cirri umum mazhabnya, sehingga ia sering disebut sebagai “ ahl al- Ra’yu”. Salah satu alasan mengapa Abu Hanifah banyak menggunakan akal dalam menentukan hukum adalah kurangnya hadits yang tersebar di Irak kala itu, keadaan yang menuntut beliau untuk banyak berfikir dalam menentukan hukum.
Tentang cara beliau menetapkan hukum dari suatu permasalahn diungkapkannya sendiri sebagai berikut :
“ Saya mengambil hukum dari al- Qur’an, jika saya tidak mendapatkannya dari al- Qur’an, maka saya bersandar kepada sabda –sabda rosul yang shohih dan yang terdapat dikalangan orang-orang yang bisa dipercaya. Bila dalam al-Qur’an dan Hadits tidak saya temukan sesuatupun, maka saya beralih kepada keterangan para sahabat. Saya mengambil mana yang saya kehendaki dan meninggalkan mana yang saya kehendaki.

Setelah berpijak pada pendapat para sahabat, saya menengok pada pendapat orang-orang lain. Jika telah sampai pada pendapat Ibrahim al-Syuba’i, Hasan Basri, Ibnu Sirin, Sa’ad bin Musayyab – sambil beliau mengemukakan beberapa nama ulama besar dari para mujtahid, maka akupun berhak melakukan ijtihad sebagaimana yang mereka lakukan.
Sahal bin Muzahim pernah menyatakan :
“ pendapat Abu Hanifah berpegang kepada apa yang dipercaya, menjauhkan dari keburukun, suka memperhatikan adat istiadat dan hal ikhwal orang banyak, apa yang dianggap baik dan buruk oleh mereka. Imam Hanafi memecahkan berbagai problematika dengan jalan qiyas, apabila jalan itu terasa kurang tepat, maka beliau menempuh jalan istihsan selama jalan ini dapat ditempuh. Jika metode inipun tidak dapat ditempuh, maka beliau mengembalikan urusan itu kepada apa yang dilakukan oleh kaum muslimin.
Secara hierarkis pokok-pokok pikiran mazhab Hanafi adalah:
1. Al- Kitab (al-Qur’anul Karim), adalah pilar utama syari’at, semua hukum kembali kepadanya dan Ia sumber dari segala sumber hukum.
2. Al- sunnah Rasullah SAW dan atsar-atsar yang shahih serta telah masyhur ( tersiar )diantara para ulama yang ahli, dan merupakan penjelasan dari al- Qur’an dan perinci dari yang mujmal ( global ).Siapa yang tidak mau berpegang pada al Sunnah tersebut, berarti ia tidak mengakui kebenaran risalah Allah yang disampaikan melalui RosulNya.
3. Al- Aqwal al-Sahabah ( fatwa-fatwa dari para sahabat ), pendapat atau ucapan-ucapan dari para sahabat di mana mereka menyaksikan masa turunnya al- Qur’an serta mengetahui keserasian antara ayat-ayat al-Qur’an dan hadits serta pewaris ilmu dari Nabi SAW untuk generasi berikutnya.
4. Al- Qiyas, apabila ternyata dalam suatu permasalahan tidak ditemukan dasar hukumnya, baik itu dalam al- Qur’an, al- Sunnah maupun perkataan sahabat, maka beliau menggunakan al-Qiyas, yaitu menghubungkan sesuatu yang belum ada hukumnya kepada kepada nash yang ada setelah memperhatikan illat yang sama diantara keduanya.
5. Al- Istihsan, keluar atau menyimpang dari keharusan logika analogi ( qiyas ) yang tanpa nyata menuju kepada hukum lain yang menyalahinya. Sebenarnya al-Istihsan merupakan pengembangan dari al- Qiyas, dan penggunaan al- Ra’yu lebih menonjol lagi. Menurut bahasa al-Istihsan berarti ” menganggap baik ” atau ” mencari yang baik ”. Sedang menurut istilah Ulama Ushul fiqh adalah meninggalkan ketentuan qiyas yang samar illatnya, atau meninggalakan hukum yang bersifat umum dan berpegang pada hukum yang bersifat pengecualian karena ada dalil yang memperkuatnya.
6. ‘Urf ( adat istiadat) masyarakat muslim yang berlaku dalam suatu masa tertentu yang tidak terdapat dalan nash al-Qur’an, sunnah atau belum ada praktek sahabat. Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercaya dan lari dari keburukan serta memperhatikan mu’amalah-mu’amalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Beliau melakukan segala urusan ( bila tidak ditenukan dalam al- Qur’an, al- Sunnah al- Ijma’ atau al- Qiyas, dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara al- Qiyas ), beliau melakukan dengan al- Istihsan. Apabila tidak dapat dilakukan al- Istihsan, beliau kembali pada ‘urf manusia.

Dari keterangan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dasar-dasar mazhab Hanafi dalam mengistimbatkan hukum adalah:
1. al-Qur’an.
2. Sunnah Rosullah SAW.
3. Aqwal al-Sahabah.
4. Qiyas.
5. Istihsan.
6. ‘Urf.

Dalam menetapkan hukum, Imam Hanafi dipengaruhi oleh perkembangan hukum di Kufah yang terletak jauh dari Madinah yang notabene sebagai kota penyelesaian problem-problem yang muncul dalam masyarakat. Sedang si Kufah, hadits hanya sedikat yang diketahui, disamping banyak terjadi pemalsuan hadits sehingga Imam Abu Hanifah sangat selektif dalam menerima hadits. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah yang aktual, beliau banyak menggunakan al-Ra’yu. Beliau mengajak kepada kebebasan berfikir dalam memecahkan masalah- masalah yang baru, yang belum terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah, dan menganjurkan pembahasan persoalan dengan bebas merdeka,ia banyak mengandalkan qiyas ( analogi ) dan juga berdasarkan Istihsan dalam menentukan hukum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*